Notification

×

Iklan

Iklan

Anak Pedagang Kecil di Madura Resmi Jadi Dokter, Ini Kisah Inspiratif Benta

Jumat, 22 Mei 2026 | Mei 22, 2026 WIB Last Updated 2026-05-22T04:13:36Z
Kilas Java, Surabaya - Di balik toga dan sumpah dokter yang diucapkan Kamis (21/5) siang di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), tersimpan kisah panjang tentang doa, perjuangan ekonomi keluarga, hingga keteguhan seorang anak pedagang kecil dari Madura yang menolak menyerah pada keadaan.

Namanya Benta Malika El Ghameela. Perempuan kelahiran Bangkalan, 9 April 2000 itu resmi menyandang gelar dokter bersama 15 dokter baru lainnya. Namun bagi Benta, perjalanan menuju titik itu tidak pernah mudah.

Setiap menghadapi ujian selama pendidikan kedokteran maupun profesi dokter, ada satu ritual yang selalu dilakukan sang ibu dari rumah mereka di Madura. 

Sebelum memasuki ruang ujian, Benta akan mengirim pesan singkat berisi nama penguji, jadwal ujian, hingga ruangan tempat dirinya diuji.

Setelah pesan terkirim, ibunya mulai membaca Surat Yasin dan tidak berhenti hingga putrinya memberi kabar bahwa ujian telah selesai.

“Kalau saya sudah chat, ‘Ma, sudah selesai’, baru Mama berhenti,” kenang Benta dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Benta, doa sang ibu itulah “jimat” yang selama ini menguatkannya menghadapi kerasnya pendidikan dokter.

Cita-cita menjadi dokter sebenarnya telah tumbuh sejak ia kecil. Saat itu, sang kakek harus rutin menjalani cuci darah akibat komplikasi diabetes dan gangguan ginjal. Dari situ, Benta mulai mengenal dunia medis lebih dekat.

“Waktu itu saya berpikir, kalau saya jadi dokter, mungkin saya bisa merawat keluarga saya sendiri,” ujarnya.

Keinginan itu semakin menguat ketika ia menempuh pendidikan di SMA Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya. Dalam setiap surat ulang tahun untuk kedua orang tuanya, Benta selalu menuliskan kalimat yang sama di bagian akhir suratnya.

“Dari putri cantik kalian, dokter Benta.”

Kalimat sederhana itu diam-diam disimpan oleh kedua orang tuanya sebagai pengingat harapan anak sulung mereka.

Namun di balik mimpi tersebut, tersimpan realitas ekonomi keluarga yang tidak sederhana. Orang tua Benta merupakan pedagang fotokopi dan percetakan kecil. Membiayai pendidikan kedokteran menjadi tantangan besar yang harus mereka hadapi setiap semester.

“Orang tua saya tidak pernah bilang kalau mereka kesulitan. Mereka cuma bilang, ‘Kamu belajar saja. Soal biaya, Mama dan Abah usahakan’,” tuturnya.

Cobaan terberat datang saat pandemi Covid-19 melanda. Usaha fotokopi keluarga hampir lumpuh total karena sekolah dan perkantoran ditutup. Pelanggan menghilang. Pemasukan keluarga menurun drastis.

Di tengah situasi tersebut, Benta sempat dihantui kekhawatiran tidak mampu melanjutkan kuliah.

Alih-alih menyerah, kedua orang tuanya memilih bertahan dengan cara lain. Mereka banting setir berjualan pakaian demi memastikan putri pertamanya tetap bisa melanjutkan pendidikan dokter.

“Di situ saya benar-benar melihat bagaimana orang tua saya berjuang agar saya tetap bertahan di kedokteran,” katanya.

Sebagai mahasiswa kedokteran, Benta juga harus menghadapi tekanan sosial. Ia mengaku sempat merasa minder karena bukan berasal dari keluarga dokter atau kalangan berada. 

Ia datang ke kampus dengan sepeda motor, menggunakan telepon genggam biasa, dan hidup sederhana di tengah lingkungan yang menurutnya banyak diisi mahasiswa dari keluarga mapan.

“Banyak yang bilang anak kedokteran harus bawa mobil. Saya sempat minder. Tapi saya berpikir, saya harus punya nilai dari diri saya sendiri,” ujarnya.

Perasaan itu justru menjadi pemantik untuk terus berkembang. Benta aktif mengikuti organisasi mahasiswa kedokteran tingkat nasional, membangun relasi, serta mengasah kapasitas diri di luar ruang kuliah.

Tantangan lain datang ketika menjalani masa koas. Jadwal panjang, tekanan akademik, tugas yang menumpuk, hingga situasi dimarahi pasien maupun tenaga kesehatan menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi.

Namun di tengah kelelahan itu, ada satu pengalaman yang membekas kuat dalam ingatannya. Seorang pasien yang sebelumnya dirawat intensif akhirnya diperbolehkan pulang. Keluarga pasien kemudian menghampirinya dan menyampaikan ucapan terima kasih.

“Dok, terima kasih sudah sering nengok Bapak,” kata keluarga pasien saat itu.

Ucapan sederhana tersebut menjadi momen yang membuat Benta merasa perjuangannya selama ini tidak sia-sia.

“Saya merasa ternyata ilmu saya berguna,” ucapnya.

Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter, Benta menargetkan langkah berikutnya: melanjutkan pendidikan dokter spesialis bedah dan kembali mengabdi di Madura yang menurutnya masih membutuhkan banyak tenaga dokter spesialis.

“Kalau orang tua saya tidak pernah mengeluh soal biaya, saya juga tidak boleh mengeluh soal pendidikan,” ujar Benta. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update