Kilas Java, Surabaya - Tidak banyak mahasiswa teknik yang akrab dengan kelir dan gamelan. Namun Christopher Jason Santoso justru menapaki jalan berbeda. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu memilih dunia pewayangan sebagai panggung perjuangannya.
Mahasiswa Program Studi S1 Studi Pembangunan angkatan 2022 tersebut mulai jatuh hati pada wayang sejak duduk di bangku sekolah dasar. Tugas sederhana membuat pagelaran wayang di sekolah menjadi titik balik hidupnya. “Dari awal, saat mengerjakan tugas itu saya merasa ini adalah sesuatu yang unik dan menarik untuk dipelajari,” ujarnya.
Dukungan keluarga membuatnya bergabung dengan sanggar di Surabaya. Namun perjalanan itu tak selalu mulus. Christopher yang berdarah keturunan Tionghoa dan mengalami rhotasisme—kesulitan melafalkan huruf R—sempat menerima celaan. Ia bahkan merasakan penolakan karena perbedaan etnis di usia yang masih belia.
Situasi tersebut membuatnya mundur sejenak dari dunia pedalangan. Tapi keinginan untuk kembali tak pernah benar-benar padam. Ia belajar secara otodidak lewat buku dan media sosial. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Pada ajang See You Soon 2023 di Tower 2 ITS, ia tampil membawakan cerita wayang dalam tiga bahasa: Inggris, Jawa, dan Mandarin.
“Saya sempat berhenti mendalang, tapi kembali belajar wayang karena ini warisan budaya Indonesia untuk semua tanpa memandang perbedaan apapun,” tegasnya.
Tak hanya tampil di panggung, Christopher juga mendalami isu budaya dan sosial melalui riset. Tugas akhirnya mengangkat judul Pembangunan Inklusi Sosial di Kota Surabaya: Studi Fenomenologi Diskriminasi Interseksionalistik terhadap Penutur dengan Rhotasisme. Penelitian itu membedah bagaimana penyandang rhotasisme mengalami diskriminasi sekaligus peluang inklusi di ruang kota.
Salah satu penelitiannya membawanya tampil sebagai pembicara dalam International Symposium on Javanese Culture 2024. Forum itu mempertemukan akademisi dan pemerhati budaya dari berbagai negara. “Bahkan, salah satu penelitian saya telah mengantarkan saya menjadi pembicara dalam forum bertaraf dunia,” ungkapnya.
Di bidang kewirausahaan, calon wisudawan periode ke-133 pada April 2026 tersebut juga mengembangkan startup minuman jamu modern bernama Herbits. Usahanya mendapat pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha 2023 dan ITS Youth Technopreneur 2023–2024. Ia melihat peluang di tengah minimnya minat generasi muda terhadap jamu.
“Anak muda jarang minum jamu, jadi saya dan tim mengembangkan inovasi Herbits sebagai jamu modern,” jelasnya.
Jejaknya pun menembus forum internasional. Ia pernah menjadi Champion of ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia mewakili ITS dan Indonesia. Selain itu, ia aktif dalam Asia Youth Sustainability Forum 2025, Youth Asian-African Legal Consultative Organization 2023, serta Smart Ocean Summer School di Tianjin University, Cina.
Meski aktivitasnya padat, Christopher tetap menerima undangan mendalang. Ia pernah tampil dalam TEDxITS 2024 Special Performance di Milieu Space, Surabaya.
Ia mengidolakan dalang seperti Ki Nartosabdo, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Tristuti Rachmadi yang dinilainya konsisten menjaga pakem sekaligus relevan dengan perkembangan zaman. (Nay).

