Perkuat Ekosistem Semikonduktor, ITS Kirim 10 Dosen Ikuti Pelatihan di UniMAP
0 menit baca
KILAS JAVA , SURABAYA - Penguasaan teknologi semikonduktor menjadi salah satu pekerjaan penting dalam memperkuat kapasitas teknologi Indonesia. Untuk memperluas kompetensi sumber daya manusia di bidang tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkuat kolaborasi dengan Universiti Malaysia Perlis (UniMAP) melalui pelatihan teknologi microfabrication.
Sebanyak 10 dosen ITS mengikuti microfabrication training di Micro Fabrication Clean Room and Failure Analysis Laboratory, UniMAP, pada 19–27 September 2026.
Pelatihan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada para dosen mengenai proses fabrikasi perangkat semikonduktor sekaligus menjadi bagian dari upaya pengembangan pendidikan, penelitian, fasilitas laboratorium, dan kerja sama dengan industri.
Guru Besar ITS bidang Biomaterials and Surface Engineering, Prof Dr Agung Purniawan ST MEng, mengatakan kebutuhan terhadap teknologi semikonduktor terus meningkat seiring berkembangnya teknologi digital. Komponen tersebut digunakan dalam berbagai perangkat modern, mulai dari telepon pintar, komputer, pusat data, kendaraan listrik, hingga peralatan pertahanan.
“Karena itu, penguasaan teknologi dan rantai pasok semikonduktor tidak hanya berkaitan dengan industri dan ekonomi, tetapi juga dengan daya saing serta kemandirian teknologi,” ujar Agung.
Kepala Pusat Studi Material Maju dan Nanoteknologi ITS itu menyebut industri semikonduktor global diproyeksikan terus bertumbuh hingga mencapai nilai pasar sekitar USD 1 triliun menjelang 2030. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), komputasi, Internet of Things (IoT), dan teknologi digital lainnya menjadi salah satu pendorong pertumbuhan tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan industri tersebut sekaligus menunjukkan besarnya ruang yang masih dapat dikembangkan dalam membangun ekosistem semikonduktor. Malaysia menjadi salah satu negara yang dapat menjadi pembelajaran karena telah merintis industri semikonduktor sejak 1971.
Saat ini, Malaysia memiliki sekitar 93 perusahaan semikonduktor yang banyak terkonsentrasi di kawasan Pulau Pinang dan Kulim High Tech Park, Kedah. Negara tersebut juga memiliki perusahaan foundry lokal, SilTerra, yang didirikan pada 1995 dan mulai beroperasi secara besar-besaran pada 2001.
Menurut Agung, pengalaman Malaysia yang penting dipelajari bukan sekadar jumlah perusahaan semikonduktor yang telah berkembang. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana ekosistem tersebut dibangun secara bertahap dengan melibatkan perguruan tinggi.
Perguruan tinggi seperti Universiti Sains Malaysia (USM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan UniMAP turut berperan dalam pengembangan teknologi dan talenta semikonduktor.
“Industri, perguruan tinggi, sumber daya manusia, fasilitas riset, kebijakan pemerintah, dan investasi harus tumbuh bersama sebagai sebuah ekosistem. Tidak bisa berdiri sendiri,” kata Agung.
UniMAP yang didirikan pada 2001 juga memiliki perhatian terhadap pengembangan ekosistem semikonduktor melalui pendidikan, penelitian, pengembangan talenta, fasilitas laboratorium, serta kolaborasi dengan industri.
Selama mengikuti pelatihan, dosen ITS memperoleh pengalaman mengenai simulasi dan proses fabrikasi Metal-Oxide-Semiconductor Field-Effect Transistor (MOSFET). Proses tersebut mencakup sejumlah tahapan fabrikasi perangkat semikonduktor, seperti deposisi material secara presisi dalam skala sangat kecil, proses etsa, doping, hingga pengujian hasil fabrikasi.
Bagi ITS, pengalaman tersebut diharapkan dapat diterapkan lebih lanjut dalam kegiatan akademik dan riset. Pengetahuan yang diperoleh para dosen dapat dikembangkan untuk memperkuat proses pembelajaran, penelitian, fasilitas laboratorium, hingga pengembangan talenta semikonduktor.
“Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas pengetahuan dan pengalaman yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kegiatan pendidikan, penelitian, pembangunan laboratorium, pengembangan talenta, serta kolaborasi yang lebih luas dengan industri,” tutur Guru Besar Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS tersebut.
Kerja sama ITS dan UniMAP juga menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu penghubung antara kebutuhan industri dan pengembangan sumber daya manusia. Industri membutuhkan talenta dan inovasi, sementara perguruan tinggi memiliki peran dalam menyiapkan sumber daya manusia serta mengembangkan riset dan teknologi.
Di sisi lain, pembangunan ekosistem semikonduktor membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah, kepastian investasi, infrastruktur, serta kesinambungan riset.
Agung menyebut terdapat dua pekerjaan yang perlu berjalan secara bersamaan. Pertama, menciptakan kebijakan yang memberikan kepercayaan dan kepastian bagi industri semikonduktor untuk berinvestasi dan berkembang hingga pada waktunya mampu membangun fasilitas foundry di Indonesia.
Kedua, perguruan tinggi perlu menyiapkan talenta yang menguasai teknologi semikonduktor secara menyeluruh, mulai dari desain, fabrikasi, karakterisasi, hingga pengembangan aplikasinya.
“Industri membutuhkan talenta, sementara talenta membutuhkan ekosistem industri untuk berkembang. Perguruan tinggi menjadi salah satu jembatan penting yang menghubungkan keduanya,” ungkapnya.
Kolaborasi dengan UniMAP menjadi bagian dari proses awal ITS dalam memperkuat kapasitas pengetahuan dan pengalaman di bidang semikonduktor. Penguasaan teknologi microfabrication menjadi salah satu kompetensi yang dikembangkan melalui kegiatan tersebut.
“Seperti benih yang membutuhkan tanah, air, nutrisi, dan waktu untuk tumbuh, ekosistem semikonduktor juga memerlukan konsistensi dan kesinambungan. Kolaborasi ITS–UniMAP adalah salah satu benih yang sedang disemai. Harapannya, benih kecil ini kelak ikut tumbuh menjadi bagian dari ekosistem semikonduktor Indonesia yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan,” pungkas Agung.
Penguatan kapasitas teknologi semikonduktor melalui pendidikan, riset, dan kolaborasi internasional tersebut sejalan dengan beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yakni poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-17 terkait Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Nayla).