BREAKING NEWS

Teknologi Baru ITS Deteksi Gempa Real-Time, Dilengkapi Prototipe Rumah Tahan Guncangan

KILAS JAVA, SURABAYA - Ancaman gempa bumi yang terus membayangi sejumlah wilayah di Indonesia mendorong pengembangan teknologi mitigasi yang lebih mudah diterapkan masyarakat. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menguji dua inovasi sekaligus, yakni sensor pendeteksi gempa berbasis digital dan prototipe bangunan tahan gempa di Ponorogo, Kamis, 20 Agustus.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya ITS dalam menghadirkan solusi mitigasi bencana yang tidak hanya berfokus pada deteksi dini, tetapi juga pada penguatan struktur hunian masyarakat agar lebih aman saat terjadi guncangan.

Wakil Kepala Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS, Dr Ir Berlian Al Kindhi SST MT, mengatakan inovasi ini merupakan hasil kolaborasi Departemen Teknik Elektro Otomasi dan Departemen Teknik Sipil ITS bersama mitra Rabasa Beton, Ponorogo.

Menurut Berlian, Indonesia memiliki tingkat kerawanan gempa yang cukup tinggi sehingga diperlukan sistem mitigasi yang mampu memberikan peringatan secara cepat sekaligus mendukung upaya pengurangan risiko bencana.

Sensor pendeteksi gempa yang dikembangkan ITS menggunakan teknologi berbasis mikrokontroler untuk membaca getaran tanah secara real-time. Sistem akan bekerja secara otomatis ketika sensor menangkap getaran yang melewati ambang tertentu dengan mengirimkan notifikasi dan mengaktifkan alarm peringatan.

Selain memberikan peringatan, sistem tersebut juga dilengkapi fitur pemantauan melalui situs web insamo.id. Informasi geolokasi serta data historis kejadian dapat ditampilkan untuk membantu pemetaan potensi bencana di suatu wilayah.

Sensor ini juga dirancang sebagai bagian dari ekosistem mitigasi kebencanaan berbasis digital. Data yang dikumpulkan dari sensor dapat digunakan dalam aplikasi pemantauan untuk mengetahui kondisi lingkungan saat terjadi bencana.

Tidak hanya untuk gempa bumi, aplikasi tersebut juga dapat digunakan dalam pemantauan ketinggian air sebagai langkah mitigasi terhadap ancaman banjir dan tanah longsor.

Keunggulan lain dari teknologi ini adalah biaya produksinya yang lebih rendah dibandingkan sensor sejenis yang telah beredar di pasaran. Kondisi tersebut memungkinkan perangkat dikembangkan lebih luas dan diaplikasikan pada rumah-rumah masyarakat.

“Sensor ini berbiaya rendah sehingga dapat dikembangkan dan diaplikasikan di berbagai rumah penduduk,” ujar Berlian.

Di sisi lain, Departemen Teknik Sipil ITS bersama tim yang dipimpin Ahmad Basshofi Habieb ST MT PhD mengembangkan prototipe bangunan tahan gempa. Inovasi ini dirancang untuk menjawab persoalan kerusakan bangunan dan korban jiwa yang banyak terjadi akibat kegagalan struktur hunian saat gempa.

Prototipe tersebut dibangun dalam bentuk bangunan dua lantai yang menyesuaikan karakter hunian masyarakat. Struktur bangunan menggunakan base isolator yang berfungsi memisahkan pergerakan tanah dengan bangunan sehingga guncangan dapat dikendalikan.

Bangunan tersebut juga menggunakan dinding hebel yang lebih tebal serta desain struktur atas tanpa rangka beton bertulang. Konsep tersebut dikembangkan untuk menghasilkan bangunan yang lebih efisien dari sisi biaya.

Basshofi berharap penelitian tersebut dapat terus dikembangkan bersama berbagai lembaga agar inovasi yang telah dirancang dapat diterapkan secara lebih luas.

“Saya berharap hasil penelitian ini dapat segera diimplementasikan agar dampak akibat gempa yang kerap terjadi di Indonesia dapat diminimalkan,” tuturnya.

Pengembangan sensor pendeteksi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa ini menjadi bagian dari kontribusi ITS dalam mendukung penguatan infrastruktur yang lebih aman. 

Inovasi tersebut juga berkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. (Nayla).
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar