Mahasiswa ITS Pangkas Pengeringan Tembakau dari 12 Hari Menjadi 3 Jam
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Bagi petani tembakau, cuaca bukan sekadar keadaan alam. Ia ikut menentukan berapa lama daun harus dikeringkan, seberapa baik mutunya, dan berapa besar hasil panen yang dapat dijual. Ketergantungan pada matahari itu coba diputus Ishmatu Aulia Rizky Kirana, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), melalui AutoDry Boost.
Inovasi tersebut mengantarkan Aulia meraih Juara 3 dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional tingkat Diploma, Sabtu (10/8) lalu.
Mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi ITS itu mengembangkan sistem pengeringan tembakau yang dapat memangkas waktu proses dari 6-12 hari dengan metode konvensional menjadi 2-3 jam untuk kapasitas 100 kilogram.
AutoDry Boost merupakan Autonomous Drying Acceleration System for Post-Harvest Processing yang dikembangkan Aulia untuk menjawab persoalan petani tembakau di Desa Sumberagung, Tuban.
Selama ini, petani di wilayah tersebut masih mengandalkan metode pengeringan konvensional yang bergantung pada sinar matahari atau sun & curing.
Aulia mengembangkan inovasi itu dengan pendampingan Ir Safira Firdaus Mujiyanti ST MT selaku dosen pembimbing.
Menurut Aulia, pengeringan yang bergantung pada kondisi cuaca tidak hanya membuat proses berlangsung lama, tetapi juga menyebabkan variabilitas mutu tembakau. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kerugian ekonomi hingga 30 persen.
“Padahal, produksi tembakau di Indonesia tergolong tinggi, mencapai 238.800 ton pada tahun 2023 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),” kata Aulia.
Sistem yang dikembangkan Aulia menggunakan teknologi hot air drying dengan kontrol otomatis terintegrasi. Udara panas didistribusikan melalui blower heater agar penyebarannya merata di dalam ruang pengering.
AutoDry Boost juga dilengkapi panel box control dan tiga unit exhaust fan. Daun tembakau segar ditempatkan pada nampan atau tray di dalam drying chamber dengan kapasitas total 100 kilogram.
Untuk menjaga proses pengeringan, sistem tersebut menggunakan sensor RTD PT-100 yang memantau suhu dalam rentang optimum 69-71 derajat Celsius. Pengaturan suhu dilakukan melalui mekanisme on-off control secara langsung.
Tak hanya mengandalkan pengukuran suhu, Aulia memasang sensor load cell untuk mengukur penurunan massa daun tembakau.
Penurunan massa tersebut digunakan untuk mengestimasi penurunan kadar air hingga mencapai kondisi optimal.
“Alat ini mengintegrasikan sensor load cell untuk mengukur penurunan massa guna mengestimasi penurunan kadar air hingga mencapai kondisi optimal,” ujar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Fakultas Vokasi ITS tersebut.
Keunggulan AutoDry Boost tidak berhenti pada kecepatan pengeringan. Sistem ini dirancang agar dapat digunakan dalam berbagai kondisi cuaca, sekaligus hemat ruang, terjangkau, dan mudah dioperasikan petani.
Dari sisi biaya, penggunaan alat tersebut disebut mampu menekan biaya operasional sebesar 54,8 persen. Limbah tembakau yang membusuk setiap panen juga dapat dikurangi hingga sekitar 30 persen.
Kapasitas produksi turut diproyeksikan meningkat. Dari sebelumnya 1,5 ton menjadi 4 ton per musim. Peningkatan tersebut diperkirakan berimbas pada pendapatan bersih petani serta kapasitas penjualan tembakau kering.
“Dampak ini diperkirakan juga berimbas pada kenaikan pendapatan bersih petani serta peningkatan kapasitas penjualan tembakau kering,” ungkap finalis Duta ITS 2025 itu.
Namun, penerapan teknologi tersebut menghadapi sejumlah persoalan. Aulia mencatat keterbatasan adaptasi petani terhadap teknologi modern, kebutuhan modal investasi awal, dan ketergantungan energi fosil sebagai beberapa hambatan yang perlu diperhatikan.
Untuk itu, ia menawarkan pelatihan dan pendampingan teknis pengoperasian alat secara berkala. Ia juga mengusulkan pembentukan skema pembiayaan kolaboratif bersama pemerintah desa.
Pengembangan AutoDry Boost selanjutnya diarahkan pada penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Aulia menyusun peta jalan pengembangan secara bertahap.
Pada 2026, pengembangan difokuskan pada substitusi energi fosil ke energi terbarukan dan penambahan sensor load cell pada setiap nampan.
Pada 2027, pengembangan diarahkan pada penyesuaian standar mutu kadar air untuk komoditas pertanian lainnya.
Setahun kemudian, pada 2028, proyek tersebut menargetkan replikasi secara terstruktur untuk memperluas dampak positifnya ke wilayah sentra pascapanen lainnya.
AutoDry Boost dikembangkan Aulia untuk meningkatkan kualitas pascapanen tembakau dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. (Nayla).