Kisah Muhammad Nurul Wasol, Alumnus Teknik Gigi UNAIR Merintis Laboratorium Gigi
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Keterbatasan sarana dan prasarana tidak menghalangi Muhammad Nurul Wasol dalam menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Gigi Universitas Airlangga (UNAIR).
Lulusan angkatan 1998 itu justru menjadikan keterbatasan sebagai bagian dari proses untuk memahami berbagai teknik pembuatan gigi dan seluk-beluk dunia kesehatan gigi.
Saat menempuh tahun terakhir perkuliahan, Wasol mulai meniti karier profesional dengan memanfaatkan waktu luang untuk bekerja.
Pengalaman di laboratorium gigi memberinya pengetahuan praktis, tidak hanya mengenai teknik pekerjaan, tetapi juga tentang bagaimana mendirikan dan mengelola sebuah laboratorium gigi.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika Wasol bersama rekan sejawat membangun Kurnia Dental Lab. Membangun usaha bersama tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pandangan di antara rekan bisnis menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi dalam proses membangun usaha.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Wasol mempertahankan konsistensi dalam menghasilkan karya berkualitas tinggi. Standar keunggulan dalam bermitra dengan industri kedokteran gigi terus dijaga, begitu pula profesionalitas dan kualitas restorasi yang dihasilkan untuk pasien. Seiring waktu, upaya tersebut membawa perkembangan yang baik bagi usaha yang dibangunnya.
Perjalanan Kurnia Dental Lab kemudian memasuki fase perubahan seiring dengan perubahan aturan dan hubungan kerja. Bentuk usaha yang semula berupa Commanditaire Vennootschap (CV) berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) untuk memperluas jangkauan layanan secara lebih profesional.
Perubahan nama menjadi Faaz Dental juga dilakukan sebagai bagian dari strategi rebranding. Nama baru tersebut disesuaikan dengan visi dan misi laboratorium gigi untuk masa depan.
Bagi Wasol, perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus mempertahankan komitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dalam bidang kesehatan gigi.
Bagi Wasol, perjalanan tersebut juga menjadi refleksi mengenai pentingnya konsistensi. Ia meyakini setiap individu memiliki kemampuan untuk meraih kesuksesan melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Menurut dia, perubahan arah dalam kehidupan kerap kali tidak dapat dikendalikan. Namun, kebiasaan baik yang dijalankan secara teratur dapat membentuk pola pikir yang mendukung seseorang untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
“Tidak bisa mengubah hidup atau arah angin, tetapi perubahan kecil yang dilakukan itulah yang mengubah diri,” ucap Wasol.
Mentalitas pantang menyerah dan kemauan untuk terus berjuang, menurut Wasol, menjadi modal penting bagi mahasiswa maupun alumni yang sedang menghadapi persaingan di dunia profesional kesehatan. (Nayla).