KKN UNAIR Ubah Limbah Dapur Jadi Eco Enzyme
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Sisa sayuran dan kulit buah yang selama ini berakhir di tempat sampah di Desa Pucakwangi, Kabupaten Lamongan, diperkenalkan sebagai bahan baku produk ramah lingkungan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBK) 8 Universitas Airlangga (UNAIR) mengajak Ibu PKK mengolah limbah dapur menjadi eco enzyme melalui program Gerakan Masyarakat Mengelola Limbah Dapur menjadi Eco Enzyme (GEMA-ENZYME).
Program tersebut tidak berhenti pada pengenalan pengelolaan sampah organik. Mahasiswa juga mendorong masyarakat memanfaatkan eco enzyme sebagai produk multifungsi yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus memiliki peluang nilai ekonomi.
Ketua tim GEMA-ENZYME, Ardiansyah Maulana, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari pengamatan terhadap limbah sayuran dan buah-buahan rumah tangga yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat Desa Pucakwangi.
“Sebagian besar warga di Desa Pucakwangi lebih sering memasak sendiri, sehingga limbah organik seperti sisa sayuran dan buah-buahan cukup banyak. Selama ini limbah tersebut umumnya hanya dibuang begitu saja,” kata Ardiansyah.
Melalui proses fermentasi menggunakan limbah organik, gula, dan air, masyarakat dapat menghasilkan eco enzyme. Cairan tersebut diperkenalkan dalam kegiatan GEMA-ENZYME sebagai salah satu alternatif pemanfaatan limbah organik rumah tangga.
Eco enzyme dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC). Selain itu, produk tersebut juga dapat digunakan sebagai pembersih lantai, pembersih kaca, serta pencuci peralatan dapur.
Pemanfaatannya tidak terbatas pada kebutuhan rumah tangga. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga mengenalkan penggunaan eco enzyme untuk membantu mengurangi bau lingkungan, termasuk bau pada selokan air.
Menurut Ardiansyah, pemanfaatan eco enzyme masih belum banyak diketahui masyarakat. Padahal, produk hasil pengolahan limbah organik tersebut memiliki fungsi yang lebih beragam dibandingkan sekadar mengolah sampah menjadi kompos.
Karena itu, GEMA-ENZYME dirancang sebagai bentuk edukasi sekaligus pemberdayaan masyarakat. Limbah dapur yang sebelumnya dibuang dapat diolah melalui proses sederhana menjadi produk yang memiliki kegunaan lebih luas.
Ibu-ibu PKK menjadi sasaran utama program karena memiliki posisi strategis dalam pengelolaan limbah rumah tangga. Aktivitas memasak sehari-hari membuat kelompok tersebut berhadapan langsung dengan sisa sayuran dan buah-buahan yang menjadi bagian dari limbah organik rumah tangga.
Di sisi lain, kegiatan PKK yang rutin dilakukan menjadi ruang untuk menyebarkan pengetahuan mengenai pengelolaan limbah. Dari kelompok tersebut, praktik pengolahan eco enzyme diharapkan dapat diterapkan tidak hanya di tingkat rumah tangga, tetapi juga berkembang di lingkungan masyarakat.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Sejumlah peserta baru mengetahui bahwa eco enzyme dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, tidak hanya sebagai pupuk organik cair.
Pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dari program GEMA-ENZYME. Masyarakat tidak sekadar diperkenalkan pada cara mengolah limbah dapur, tetapi juga pada kemungkinan pemanfaatan produk yang dihasilkan setelah proses pengolahan.
Ardiansyah berharap pengetahuan yang diberikan melalui program tersebut tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Produksi eco enzyme, menurut dia, dapat dilanjutkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Jika pengolahannya berkembang, eco enzyme tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sendiri. Produk tersebut juga berpotensi dijual sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.
“Harapannya, ibu-ibu PKK bisa terus memproduksi eco enzyme setelah KKN selesai. Kalau dikembangkan, produk ini tidak hanya dimanfaatkan sendiri, tetapi juga bisa dijual sehingga menjadi tambahan pendapatan sekaligus menjadi keunikan Desa Pucakwangi,” pungkas Ardiansyah.
Melalui GEMA-ENZYME, pengolahan eco enzyme di Desa Pucakwangi diarahkan untuk terus dikembangkan oleh Ibu PKK setelah program KKN-BBK 8 UNAIR berakhir. (Nayla).