21 Jurnal UNAIR Terindeks Scopus, LPJPHKI Tekankan Kualitas dan Integritas
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA — Sebanyak 21 jurnal Universitas Airlangga (UNAIR) telah terindeks Scopus hingga 2026. Capaian ini menjadi bagian dari upaya Lembaga Pengembangan Jurnal, Publikasi, dan Hak Kekayaan Intelektual (LPJPHKI) UNAIR membangun ekosistem publikasi yang tidak hanya mengejar jumlah, tetapi juga kualitas dan integritas.
Ketua LPJPHKI UNAIR, Prof Ferry Efendi SKep Ns MSc PhD, mengatakan perkembangan tersebut tidak terlepas dari perhatian dan dukungan sivitas akademika terhadap pengembangan jurnal di lingkungan universitas. Menurut dia, penguatan ekosistem publikasi menjadi bagian penting agar hasil riset UNAIR dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.
“Ekosistem publikasi yang ada di UNAIR ini dibangun dengan kuat. Jadi, tidak semata-mata dari sisi jumlah, tetapi juga dari sisi kualitas dan integritas,” ujarnya.
Bagi Prof Ferry, publikasi ilmiah tidak semestinya menjadi tahap akhir dari sebuah penelitian. Riset yang telah dilakukan perlu keluar dari ruang akademik dan menjangkau masyarakat sehingga pengetahuan yang dihasilkan dapat memberikan perubahan nyata.
Perubahan itu, kata dia, dapat muncul dalam berbagai bentuk. Hasil penelitian dapat berkontribusi terhadap perubahan tata kelola, pengembangan produk, maupun memengaruhi kebijakan.
Dalam konteks kebijakan, dampak tersebut disebut sebagai policy impact. Adapun penelitian yang memperkaya teori dan khazanah keilmuan masuk dalam kategori knowledge impact. Keduanya menunjukkan bahwa nilai sebuah riset tidak hanya terletak pada proses penelitian, tetapi juga pada sejauh mana pengetahuan tersebut digunakan.
“Publikasi ini menjadi pintu utama. Menjadi corong untuk mengubah kebijakan. Jadi bagaimana publikasi kita, ataupun sesuatu yang kita tulis, itu dibaca, didengar, dan memengaruhi kebijakan,” jelasnya.
Karena itu, publikasi menjadi penghubung antara pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi dan kebutuhan masyarakat. Semakin luas hasil penelitian dibaca dan digunakan, semakin terbuka pula peluang riset tersebut memberikan dampak di luar lingkungan akademik.
Perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi turut memengaruhi cara hasil penelitian disebarluaskan. Prof Ferry mengatakan perkembangan teknologi telah menggeser sumber informasi masyarakat dari media konvensional seperti televisi, radio, dan surat kabar ke media sosial serta berbagai platform digital.
Kondisi tersebut membuka kanal yang lebih beragam bagi peneliti untuk menyampaikan hasil penelitian.
Menurut Prof Ferry, publikasi perlu hadir melalui berbagai kanal agar pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Di lingkungan UNAIR, pengembangan jurnal juga berlangsung di tengah keberagaman bidang keilmuan. Jurnal-jurnal tersebut mencakup bidang sosial humaniora, kesehatan, sains dan teknologi, hingga ekonomi dan bisnis.
Keberagaman tersebut menjadi salah satu karakter dalam ekosistem jurnal UNAIR. Namun, menurut Prof Ferry, keberagaman bidang saja tidak cukup jika tidak disertai dengan penelitian yang memiliki unsur kebaruan.
Pengelola jurnal perlu mendorong lahirnya riset yang orisinal dan unik. Penelitian, kata dia, tidak semestinya hanya mengulang penelitian sebelumnya tanpa memberikan kontribusi baru terhadap bidang keilmuan yang dikaji.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah integritas dalam proses penelitian dan publikasi. Jurnal-jurnal UNAIR mengacu pada prinsip Committee on Publication Ethics (COPE) untuk menjaga etika penelitian dan publikasi.
Bagi UNAIR, indeksasi Scopus juga bukan titik akhir dari pengembangan jurnal. Pengakuan tersebut justru membawa tanggung jawab baru untuk mempertahankan standar yang telah dicapai.
Prof Ferry menilai tantangan setelah sebuah jurnal masuk dalam indeksasi Scopus adalah menjaga kualitas secara konsisten. Selain itu, visibilitas jurnal perlu terus ditingkatkan, tata kelolanya harus berkelanjutan, dan integritas publikasi tetap menjadi perhatian.
“Scopus ini langkah awal, tapi bukan garis akhir. Tantangan berikutnya memastikan kualitasnya tetap terjaga, visibilitasnya meningkat, tata kelolanya berkelanjutan, dan integritasnya tetap kita pastikan,” pungkasnya.
Hingga 2026, 21 jurnal UNAIR terindeks Scopus, dengan pengembangan publikasi diarahkan tidak hanya pada pencapaian indeksasi, tetapi juga pada kualitas riset, integritas jurnal, serta kemampuan hasil penelitian menjangkau pembaca dan memengaruhi kebijakan. (Nayla).