UT Surabaya Bangun Model Ekonomi Desa di Sidoarjo, 10 Ribu Bibit Nila dan 300 Pohon Tin Disalurkan

KILAS JAVA, SURABAYA – Pemberdayaan masyarakat tidak selalu dimulai dari proyek besar bernilai miliaran rupiah. Di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, perubahan justru dimulai dari perpaduan dua komoditas yang selama ini belum banyak dikembangkan secara terpadu, yakni buah tin dan ikan nila. 

Melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Nasional 2026, Universitas Terbuka (UT) Surabaya menghadirkan inovasi yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi kelompok tani dan pelaku UMKM.

Program bertajuk Pemberdayaan Kelompok Tani dan UMKM melalui Integrasi Budidaya Buah Tin dan Ikan Nila untuk Peningkatan Ekonomi Lokal tersebut menjadi salah satu implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi. 

Tidak berhenti pada kegiatan seremonial, program ini dirancang sebagai pendampingan berkelanjutan agar masyarakat mampu mengembangkan potensi desa secara mandiri.

Suasana Desa Pagerngumbuk tampak hidup ketika rombongan Universitas Terbuka Surabaya bersama jajaran pemerintah daerah tiba di lokasi kegiatan. Kehadiran akademisi, pemerintah, BUMDes, kelompok tani, hingga pelaku UMKM memperlihatkan bahwa pembangunan desa membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Ketua Tim PkM Nasional UT Surabaya Drs. Dwi Sambada, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, pemberdayaan berbasis potensi lokal menjadi salah satu strategi yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat desa.

Direktur Universitas Terbuka Surabaya Prof. Dr. Suparti, M.Pd., bersama Camat Wonoayu Drs. Anis Anwar dan Kepala Desa Pagerngumbuk Abdul Malik turut menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. 

Mereka berharap model integrasi budidaya ini dapat berkembang menjadi contoh pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di daerah lain.

Sebagai bentuk komitmen, UT Surabaya menyerahkan bantuan berupa 10.000 ekor bibit ikan nila dan 300 pohon buah tin kepada Pemerintah Desa serta BUMDes Pagerngumbuk. Bantuan tersebut menjadi modal awal untuk membangun sistem budidaya terpadu yang menghubungkan sektor pertanian, perikanan, hingga pengembangan produk olahan.

Prosesi penebaran bibit ikan nila di kolam budidaya menjadi penanda dimulainya implementasi program di lapangan. Konsep integrasi tersebut dirancang agar limbah organik dapat dimanfaatkan secara optimal, biaya produksi menjadi lebih efisien, serta menghasilkan komoditas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Program ini dikerjakan oleh tim dosen Universitas Terbuka Surabaya yang diketuai Drs. Dwi Sambada, S.Pd., M.Pd., bersama Prof. Tridyah Prastiti, M.Pd., Dr. Pismia Sylvi, S.Si., M.Si., Drs. Sulistyono, M.Pd., Dr. Erlambang Budi Hermanto, serta didukung dua mahasiswa. Kolaborasi dosen dan mahasiswa tersebut menjadi bentuk nyata implementasi pendidikan yang terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, kelompok tani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas budidaya, sementara pelaku UMKM memperoleh bahan baku yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. 

Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan pada sektor produksi, tetapi juga berkembang hingga pemasaran dan penguatan usaha mikro.

Kepala Desa Pagerngumbuk Abdul Malik menilai kehadiran perguruan tinggi memberikan optimisme baru bagi masyarakat.

"Kami percaya pendampingan dari Universitas Terbuka Surabaya akan membantu masyarakat mengembangkan potensi desa. Budidaya ikan nila dan buah tin bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi investasi bagi masa depan desa," ujarnya.

Hal senada disampaikan salah seorang pelaku UMKM setempat. Ia melihat peluang besar dari integrasi pertanian dan perikanan yang dapat menghasilkan berbagai produk olahan dengan nilai jual lebih tinggi.

"Dengan adanya program ini, kami memiliki kesempatan mengembangkan produk baru dari hasil pertanian dan perikanan desa. Ini menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan," katanya.

Di sela kegiatan, seluruh peserta mengikuti sesi dokumentasi bersama sebagai simbol terbangunnya kemitraan antara dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat. 

Kolaborasi tersebut diharapkan terus berkembang melalui pendampingan, inovasi, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi ekonomi lokal secara berkelanjutan. (Nayla).
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url