Notification

×

Iklan

Iklan

Mahasiswa UNAIR Kembangkan Wound Dressing Alami dari Teh Hijau dan Maizena, Berpeluang Cegah Infeksi Luka

Senin, 15 Juni 2026 | Juni 15, 2026 WIB Last Updated 2026-06-15T11:56:53Z
KILAS JAVA, SURABAYA – Inovasi di bidang kesehatan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan teknologi medis yang efektif sekaligus ramah lingkungan. Menjawab tantangan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan wound dressing atau pembalut luka berbasis bahan alami yang dirancang untuk membantu mencegah infeksi sekaligus mendukung proses penyembuhan luka.

Gagasan tersebut berhasil mengantarkan tim mahasiswa UNAIR meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) skema Riset Eksakta (RE) 2026. 

Melalui penelitian bertajuk Film Hidrokoloid Inovatif Berbasis Pektin Maizena dan Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) untuk Wound Dressing Applications, mereka menawarkan alternatif perawatan luka yang memanfaatkan sumber daya alam terbarukan dan berpotensi mengurangi ketergantungan pada material sintetis.

Tim peneliti terdiri atas mahasiswa angkatan 2025 dari berbagai disiplin ilmu, yakni Abdullah Imam Abdul Rahman dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKP), Desiva Frisillia Afanty dari Fakultas Farmasi (FF), Alya Nur Azizah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), M Zain Hisyam Al Fikri Zuhdi dari FKP, serta Fisti Nisa Nur Azizah dari Fakultas Kedokteran (FK). 

Kolaborasi lintas fakultas tersebut menjadi modal penting dalam mengembangkan inovasi yang mengintegrasikan aspek keperawatan, farmasi, kesehatan masyarakat, dan ilmu kedokteran.

Abdullah Imam Abdul Rahman menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari perkembangan teknologi hidrokoloid yang selama ini banyak diaplikasikan sebagai lapisan pelindung pada produk pangan. 

Dari konsep tersebut, tim kemudian melihat peluang untuk mengadaptasinya ke dalam bidang medis sebagai bahan dasar wound dressing yang lebih aman dan berkelanjutan.

Menurutnya, ide tersebut lahir dari keinginan menghadirkan solusi kesehatan yang tidak hanya efektif, tetapi juga mendukung konsep greener healthcare atau layanan kesehatan yang lebih ramah lingkungan. 

Meski tema yang diangkat tidak mengikuti tren penelitian yang umum mendominasi kompetisi sebelumnya, tim tetap yakin bahwa inovasi tersebut memiliki prospek besar untuk dikembangkan.

“Kami sempat ragu karena topik yang kami bawa tidak terlalu mengikuti tren para pemenang sebelumnya. Namun kami berpikir positif bahwa penelitian ini dapat menjadi pengembangan yang kuat untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih baik, khususnya dalam bidang penyembuhan luka,” ujarnya.

Dalam penelitian itu, tim memanfaatkan kombinasi pektin, maizena sebagai biopolimer alami, serta ekstrak daun teh hijau yang dikenal memiliki kandungan senyawa bioaktif. 

Ekstrak daun teh hijau dipilih karena memiliki potensi regeneratif dan antioksidan yang diyakini mampu mendukung proses pemulihan jaringan yang mengalami kerusakan.

Pengembangan formulasi dilakukan melalui serangkaian pengujian laboratorium untuk memastikan karakteristik material yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan aplikasi medis. 

Berbagai parameter diuji, mulai dari kekuatan mekanik, kemampuan menyerap cairan, hingga efektivitas pelepasan bahan aktif yang terkandung di dalam wound dressing.

“Formulasi tersebut kami buat terlebih dahulu mulai dari pemeriksaan struktur menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Setelah itu dilakukan uji daya tarik, kemampuan penyerapan air, serta profil pelepasan bahan aktif,” terang Abdullah.

Tahapan penelitian tidak berhenti pada pengujian material. Tim juga melakukan uji in vivo untuk mengevaluasi efektivitas wound dressing terhadap proses penyembuhan luka. 

Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan histopatologi guna mengamati perubahan jaringan dan respons biologis yang terjadi setelah penggunaan formulasi tersebut.

Di balik capaian memperoleh pendanaan nasional, proses penelitian tidak berjalan tanpa hambatan. Abdullah mengungkapkan bahwa tim menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengadaan bahan penelitian, pengurusan laboratorium, hingga pelaksanaan pengujian eksternal yang membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak.

Selain itu, formulasi hydrocolloid yang sedang dikembangkan masih memerlukan penyempurnaan melalui serangkaian percobaan berulang. Setiap perubahan komposisi bahan menghasilkan karakteristik yang berbeda sehingga tim harus melakukan proses trial and error untuk menemukan formulasi yang paling optimal.

Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa produk yang dikembangkan tidak hanya memiliki nilai inovatif, tetapi juga memenuhi standar ilmiah yang diperlukan untuk aplikasi di bidang kesehatan. Melalui penelitian ini, tim berharap dapat menghasilkan bukti awal yang menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi wound dressing berbasis bahan alami di masa mendatang.

Mereka juga membuka peluang agar hasil penelitian tersebut dapat berkembang lebih jauh menjadi produk inovatif yang memiliki nilai komersial dan manfaat luas bagi masyarakat. Di saat yang sama, riset ini diharapkan mampu memicu lahirnya penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan bahan-bahan alami Indonesia untuk mendukung kemajuan teknologi kesehatan yang berkelanjutan. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update