Kilas Java, Surabaya – Arah baru generasi muda Indonesia ditegaskan dari ruang akademik. Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, menilai kampus bukan lagi sekadar tempat mencetak lulusan, melainkan inkubator lahirnya wirausahawan muda yang adaptif dan berdaya saing global.
Pesan itu ia sampaikan dalam kuliah umum bertajuk Young Entrepreneurs For a Better Future of Indonesia di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C Universitas Airlangga, Selasa (28/4/2026).
Dalam paparannya, Dyah Roro memotret struktur ekonomi nasional yang masih sangat ditopang oleh sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai sekitar 60 persen, menjadikannya sebagai fondasi utama stabilitas ekonomi Indonesia.
Namun demikian, ia menggarisbawahi bahwa kekuatan tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan akses pasar yang merata. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mendorong percepatan integrasi UMKM ke dalam rantai pasok modern melalui program business matching.
“Kami sudah mempertemukan 804 UMKM dengan pelaku usaha besar seperti MAP Group, IKEA, dan Metro. Dari proses kurasi, 107 UMKM dinyatakan siap masuk pasar,” jelasnya.
Menurutnya, proses kurasi menjadi tahap krusial untuk memastikan kualitas produk UMKM memenuhi standar industri ritel modern. Tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga konsistensi produksi, kemasan, hingga kesiapan distribusi.
Upaya tersebut diperkuat dengan ekspansi pasar global. Pemerintah memanfaatkan jaringan atase perdagangan di 33 negara untuk membuka akses ekspor baru. Indonesia juga aktif menjalin perjanjian dagang bilateral dan multilateral, termasuk melalui World Trade Organization.
Ia menyebut, pendekatan politik luar negeri bebas aktif memberikan fleksibilitas bagi Indonesia dalam membangun kemitraan ekonomi tanpa terjebak dalam blok tertentu.
“Dengan posisi ini, Indonesia punya ruang gerak luas untuk memperluas pasar dan memperkuat daya tawar,” ujarnya.
Kuliah umum tersebut tidak hanya bersifat satu arah. Mahasiswa diberi ruang berdialog langsung dengan pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Franchise Indonesia (AFI). Interaksi itu membuka perspektif praktis tentang dunia bisnis, mulai dari tahap perintisan hingga ekspansi usaha.
Menjawab pertanyaan mahasiswa terkait langkah awal berwirausaha, Dyah Roro menekankan pentingnya kejelasan visi. Ia mengingatkan bahwa banyak bisnis gagal bukan karena kekurangan modal, tetapi karena tidak memiliki arah yang kuat.
Ia merekomendasikan buku Start with Why karya Simon Sinek sebagai referensi untuk membangun pola pikir kewirausahaan berbasis tujuan.
“Bisnis yang kuat lahir dari alasan yang jelas. Mulai dari hal kecil, tapi lakukan secara konsisten,” katanya.
Dalam konteks global, ia juga menyinggung dinamika geopolitik yang kerap dipersepsikan sebagai ancaman.
Menurutnya, situasi tersebut justru membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian di sektor strategis seperti pangan dan energi.
Mahasiswa, lanjut dia, perlu melihat perubahan global sebagai ruang inovasi, bukan hambatan. Kemampuan membaca peluang di tengah ketidakpastian menjadi kompetensi kunci bagi wirausahawan muda.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun jejaring sejak dini. Relasi yang luas dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan usaha, terutama di era ekonomi kolaboratif.
“Jangan hanya fokus pada nilai akademik. Bangun koneksi, karena peluang sering datang dari relasi,” ujarnya.
Diskusi berlangsung hidup dengan beragam pertanyaan kritis dari mahasiswa, mulai dari strategi menghadapi persaingan digital hingga cara menjaga keberlanjutan bisnis di tengah perubahan tren yang cepat. (Nayla).

