Kilas Java, Surabaya - Institut Teknologi Sepuluh Nopember kembali menunjukkan peran strategisnya dalam menjawab tantangan global. Melalui Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD), kampus ini memperkenalkan riset pengembangan padi salin di Kebun Raya Mangrove Surabaya. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya konkret menghadapi krisis pangan, khususnya di wilayah pesisir yang rentan terhadap intrusi air laut.
Program ini dijalankan dalam skema Equity pada World Class University (WCU), yang mendorong integrasi riset berstandar internasional dengan dampak langsung bagi masyarakat. Tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, program ini juga diarahkan untuk menghasilkan solusi aplikatif yang bisa diimplementasikan di tingkat daerah.
Penelitian ini dipimpin oleh Mukhammad Muryono, akademisi Departemen Biologi ITS, yang berkolaborasi dengan peneliti internasional, Tran Thi Huong Sen dari University of Agriculture and Forestry, Hue University.
Kolaborasi lintas negara tersebut memperkuat pendekatan ilmiah sekaligus membuka peluang transfer pengetahuan dalam pengelolaan lahan pesisir.
Dalam implementasinya, riset ini juga melibatkan Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Surabaya sebagai mitra strategis. Keterlibatan pemerintah daerah menjadi kunci dalam proses hilirisasi inovasi, terutama dalam penyediaan lahan serta dukungan kebijakan agar hasil riset dapat diterapkan secara nyata di masyarakat.
Muryono menjelaskan bahwa fokus utama penelitian ini adalah pengembangan varietas padi salin, yakni jenis padi yang memiliki toleransi tinggi terhadap kadar garam. Inovasi ini menjadi relevan mengingat banyaknya lahan pesisir yang tidak produktif akibat tingginya salinitas tanah dan air.
Kebun Raya Mangrove Surabaya dipilih sebagai lokasi riset karena karakteristik lingkungannya yang merepresentasikan kondisi lahan pesisir.
Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai laboratorium alam, tetapi juga sebagai etalase inovasi berbasis blue economy di Kota Surabaya. Peran BRIDA dalam memfasilitasi lahan penelitian dinilai krusial untuk memastikan keberlanjutan implementasi.
Selain pengembangan varietas, tim peneliti ITS juga mengintegrasikan teknologi rendah karbon dalam sistem budidaya. Salah satunya melalui penggunaan Water Level Sensor berbasis tenaga surya atau WALsens, yang memungkinkan pemantauan ketinggian air secara real-time dan presisi. Teknologi ini mendukung efisiensi pengelolaan lahan sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.
Pendekatan berkelanjutan juga diterapkan melalui penggunaan biochar sebagai pembenah tanah. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan kualitas tanah, tetapi juga berkontribusi terhadap sekuestrasi karbon serta pengurangan emisi metana di lahan persawahan pesisir.
Menurut Muryono, strategi ini mengadaptasi praktik sukses pengelolaan lahan kritis di kawasan Delta Mekong, Vietnam.
Dengan mengombinasikan inovasi varietas, teknologi monitoring, dan pendekatan ekologis, riset ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan yang sebelumnya dianggap tidak layak tanam.
Program Equity-WCU yang menaungi riset ini memberikan dampak multidimensi. Selain meningkatkan rekognisi internasional melalui publikasi ilmiah bereputasi, program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals, terutama pada aspek ketahanan pangan, kesehatan, inovasi, dan kemitraan global.
Sinergi antara perguruan tinggi, mitra internasional, dan pemerintah daerah menjadi model kolaborasi yang semakin relevan di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis pangan global.
Melalui ekosistem riset yang terintegrasi di Kebun Raya Mangrove Surabaya, ITS mendorong lahirnya inovasi berbasis sains yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat pesisir. (Nayla).

