Polusi Udara Surabaya Jadi Sorotan, Pakar ITS Jelaskan Faktor Pemicu dan Risikonya
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Kualitas udara di Surabaya menjadi perhatian setelah konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes sempat masuk kategori Tidak Sehat. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya pada 15 Oktober 2026, kondisi tersebut terutama terpantau pada pukul 06.00–09.00 WIB.
Pakar pencemaran udara Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Eng Arie Dipareza Syafei ST MEPM, menilai temuan itu menunjukkan adanya episode pencemaran yang perlu ditanggapi secara serius. Menurut dosen Departemen Teknik Lingkungan ITS tersebut, penurunan kualitas udara tidak semata-mata berkaitan dengan cuaca panas, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi di perkotaan.
Arie menjelaskan, kualitas udara ditentukan melalui pengukuran konsentrasi sejumlah polutan, antara lain PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon monoksida (CO). Hasil pengukuran tersebut menjadi dasar penentuan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), yang memberikan informasi mengenai tingkat pencemaran sekaligus potensi risikonya terhadap kesehatan.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu PM10 ditetapkan sebesar 75 mikrogram per meter kubik (µg/m³) untuk rata-rata 24 jam dan 40 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. Adapun baku mutu PM2.5 sebesar 55 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 15 µg/m³ untuk rata-rata tahunan.
Arie mengingatkan bahwa hasil pengukuran konsentrasi polutan harus dibaca berdasarkan periode rata-ratanya. Selain itu, kualitas udara yang masih memenuhi baku mutu tidak serta-merta berarti bebas dari risiko kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan pencemaran.
Kepala Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim ITS itu menyebut kendaraan bermotor, aktivitas pembakaran industri, dan pembakaran terbuka sebagai sejumlah sumber emisi yang berkontribusi terhadap pencemaran udara di Surabaya. Debu fugitif dari area terbuka juga dapat menambah beban partikulat di udara.
Menurut Arie, cuaca panas bukan sumber langsung PM2.5. Namun, kondisi tersebut dapat memengaruhi dinamika polutan di atmosfer. Intensitas sinar matahari yang tinggi, misalnya, dapat meningkatkan pembentukan ozon. Sementara itu, pemanasan permukaan turut memengaruhi proses pencampuran udara yang menentukan penyebaran dan akumulasi polutan.
Aktivitas kendaraan bermotor pada pagi hari juga perlu menjadi perhatian. Ketika volume kendaraan meningkat, emisi yang dilepaskan ke udara dapat bertambah. Pada saat bersamaan, lapisan pencampuran udara yang relatif dangkal dapat membuat polutan lebih mudah terakumulasi di lapisan troposfer.
“Peningkatan emisi pada pagi hari, ketika lapisan pencampuran udara masih relatif dangkal, dapat menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di lapisan troposfer,” ujar alumnus program doktoral Hiroshima University, Jepang, tersebut.
Paparan polusi udara dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Dalam jangka pendek, masyarakat berisiko mengalami iritasi, batuk, sesak napas, hingga perburukan asma. Adapun paparan berulang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan paru-paru.
Risiko tersebut perlu diperhatikan ketika pencemaran udara terjadi bersamaan dengan cuaca panas. Arie menjelaskan, suhu tinggi dapat menambah beban tubuh dan meningkatkan risiko dehidrasi. Kombinasi paparan polusi dan cuaca panas menjadi perhatian khusus bagi anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru.
“Kombinasi keduanya perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru,” katanya.
Untuk mengendalikan pencemaran udara, Arie menekankan perlunya kerja sama pemerintah dan masyarakat. Pemerintah diharapkan memperkuat sistem peringatan kualitas udara, menindak praktik pembakaran terbuka, serta melakukan pemeriksaan terhadap sumber emisi tinggi.
Masyarakat juga diimbau tidak membakar sampah dan memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan. Upaya pengendalian emisi tersebut sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-13 tentang penanganan perubahan iklim.
“Kita perlu bersama-sama mereduksi emisi,” pungkas Arie. (Nayla).