Pakar UNAIR Soroti Nakes Kurang Empati, Beban Kerja dan Sistem Kesehatan Jadi Faktor
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Sikap tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai kurang empati terhadap pasien kembali menjadi sorotan. Fenomena tersebut tidak hanya memengaruhi kualitas interaksi antara nakes dan pasien, tetapi juga berpotensi memperkuat stigma negatif terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia.
Pakar Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Andria Saptyasari SSos MA, menilai persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan sikap individu tenaga kesehatan. Menurut dia, terdapat faktor sistemik yang turut memengaruhi kualitas interaksi nakes dengan pasien di fasilitas kesehatan.
Salah satu faktor utama adalah tingginya beban kerja. Jumlah pasien yang besar tidak selalu sebanding dengan ketersediaan tenaga kesehatan. Kondisi itu membuat nakes rentan mengalami kelelahan fisik sekaligus terkuras secara emosional ketika memberikan pelayanan.
“Jumlah pasien itu kan banyak, sementara jumlah nakes itu kan perbandingannya tidak seimbang. Ketika rasio pasien lebih besar, sering kali nakes ini sudah terkuras tenaga dan emosinya saat menolong orang sakit,” ungkapnya.
Selain beban pelayanan, keterbatasan kuota layanan BPJS di berbagai rumah sakit pemerintah juga menjadi bagian dari persoalan sistem pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian dalam upaya memperbaiki kualitas layanan dan interaksi antara tenaga kesehatan dengan pasien.
Tekanan lain muncul dari tingginya biaya pendidikan kedokteran. Menurut Dr Andria, kondisi finansial tersebut membuat sejumlah dokter harus berpraktik di tiga instansi berbeda dengan menggunakan tiga Surat Izin Praktik (SIP) dalam satu hari. Mobilitas dan tuntutan berpindah tempat praktik dalam satu minggu menjadi salah satu faktor yang dapat memicu kelelahan.
“Pendidikan di Indonesia, khususnya kedokteran, biayanya sangat tinggi sehingga dokter sering berpindah instansi praktik untuk menstabilkan finansial. Sebenarnya pembekalan empati itu harus dimulai dari awal saat masih mahasiswa kedokteran,” jelasnya.
Karena itu, Dr Andria menilai pemerintah perlu membenahi sistem kesehatan, salah satunya melalui subsidi pendidikan kedokteran agar lebih merata. Di sisi lain, pendidikan karakter dan empati juga perlu diberikan sejak mahasiswa berada di bangku pendidikan kedokteran.
Menurut dia, kemampuan menyampaikan informasi medis dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien. Penjelasan medis tidak seharusnya disampaikan dengan kesan terburu-buru ataupun meremehkan pasien.
“Pasien itu tidak hanya sekadar butuh sembuh, tetapi diorangkan itulah yang lebih penting,” ujarnya.
Di tengah perkembangan media sosial, tenaga kesehatan juga semakin banyak membuat konten edukasi kesehatan. Dr Andria menilai aktivitas tersebut diperbolehkan selama tetap berada dalam koridor etika dan profesionalitas.
Ia mengingatkan tenaga medis tidak diperkenankan menampilkan wajah maupun kondisi pasien tanpa adanya izin tertulis. Batasan tersebut menjadi penting agar aktivitas edukasi kesehatan di ruang digital tetap menghormati hak dan privasi pasien.
Persoalan lain yang disoroti adalah miskomunikasi antara pasien dan pihak rumah sakit mengenai prosedur pelayanan. Dalam praktiknya, tenaga medis juga menghadapi pasien yang menuntut perlakuan khusus atau meminta didahulukan tanpa memahami bahwa pelayanan medis didasarkan pada tingkat kedaruratan penyakit atau triage.
“Pasien tidak boleh bersikap semena-mena layaknya ‘raja’ dan tetap menghargai wewenang medis yang sedang bekerja. Sebaliknya, para nakes juga sebaiknya bisa lebih sabar dan menjaga tutur kata agar tidak melukai hati pasien yang sudah menderita akibat penyakitnya,” pesannya.
Menurut Dr Andria, perbaikan fasilitas dari pemerintah dan tumbuhnya empati dari kedua belah pihak menjadi bagian penting dalam membangun interaksi pelayanan kesehatan yang lebih baik. (Nayla).