BREAKING NEWS

Pakar ITS Ungkap Risiko Desain Kapal Usai KM Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa

KILAS JAVA, SURABAYA - Peristiwa terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di sekitar perairan Kepulauan Masalembo, Laut Jawa, tidak hanya menyisakan persoalan evakuasi dan keselamatan penumpang. Dari sisi teknis, insiden tersebut kembali mengangkat pertanyaan mengenai kesesuaian desain kapal dengan karakter perairan Indonesia.

Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama MSc PhD, menilai faktor desain kapal dan kemampuan kapal menghadapi kondisi laut menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam memahami potensi penyebab kecelakaan.

Menurut pakar hidrodinamika yang akrab disapa IKAP itu, kemampuan kapal dalam menghadapi gerakan laut atau seakeeping masih sering kurang menjadi perhatian dalam proses perancangan kapal, terutama untuk wilayah operasi Indonesia.

Padahal, aspek tersebut berkaitan erat dengan stabilitas kapal saat menghadapi gelombang, termasuk ketika kapal beroperasi di jalur pelayaran dengan kondisi laut yang terbuka.

“Perancangan aspek performa kapal di laut (seakeeping) kerap diabaikan. Terutama bagi perancang kapal di perairan Indonesia, sehingga tidak sedikit terjadinya masalah stabilitas dan kenyamanan gerak saat beroperasi,” ujar IKAP.

KM Virgo Transport 8 diketahui merupakan kapal impor asal Jepang yang telah berusia sekitar tiga dekade. Namun, menurut IKAP, usia kapal tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai kelayakan operasional sebuah kapal.

Ia menjelaskan, kapal dengan usia lama tetap dapat beroperasi secara aman apabila mendapatkan perawatan yang baik. Persoalan utama justru terletak pada apakah karakter desain kapal tersebut sesuai dengan lingkungan laut tempat kapal berlayar.

“Yang perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia dengan gelombang tinggi,” katanya.

IKAP menjelaskan, karakteristik perairan Jepang memiliki perbedaan dengan wilayah laut Indonesia. Jepang memiliki kondisi geografis dengan jarak antarpulau yang relatif dekat, sementara Indonesia memiliki wilayah laut terbuka dengan potensi gelombang besar pada sejumlah kawasan.

Perbedaan kondisi tersebut membuat kapal yang dirancang untuk satu wilayah belum tentu memiliki tingkat kesesuaian yang sama ketika digunakan di wilayah lain.

“Karakteristik rute pelayaran yang ekstrem ini menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda,” ungkap alumnus doktoral University of Southampton, Inggris tersebut.

Dalam kajian teknisnya, IKAP juga menyoroti karakter kapal jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro) seperti KM Virgo Transport 8. Kapal Ro-Ro dari negara dengan kondisi empat musim umumnya memiliki desain lambung tertutup penuh yang bertujuan meningkatkan keamanan menghadapi kondisi cuaca dingin.

Sementara untuk kapal yang beroperasi di Indonesia, desain sering kali memiliki pertimbangan berbeda, termasuk adanya bukaan pada sisi tertentu untuk efisiensi energi dan mengurangi beban ruang tertutup atau enclosed space.

“Desain seperti itu juga berfungsi mengurangi beban pajak ruang tertutup (enclosed space) yang berisiko bagi stabilitas kapal saat berlayar,” jelasnya.

Selain desain lambung, IKAP memperkirakan masuknya air dalam jumlah besar ke badan kapal juga menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut dapat terjadi akibat cuaca buruk, gelombang tinggi, maupun pintu ramp atau ramp door yang tidak tertutup sempurna.

Air yang masuk ke dek kapal dapat menyebabkan perubahan kondisi stabilitas, terlebih apabila tidak didukung sistem pompa yang mampu mengendalikan volume air tersebut.

Menurut IKAP, kondisi itu dapat memunculkan efek permukaan bebas atau sloshing effect, yakni pergerakan air di dalam kapal yang berpotensi mengganggu keseimbangan kapal.

“Risiko ini semakin diperparah jika kendaraan yang dimuat tidak diikat dengan benar, sehingga bergeser dan mengubah titik pusat massa kapal secara drastis,” ujarnya.

Selain persoalan teknis, IKAP juga menyoroti aspek kesiapan keselamatan penumpang. Menurut dia, tingginya jumlah korban dalam kecelakaan pelayaran salah satunya dapat dipengaruhi oleh rendahnya pemahaman penumpang terhadap prosedur keselamatan.

Ia menyebut penerapan safety induction atau pengarahan keselamatan sebelum keberangkatan menjadi bagian penting dalam sistem keselamatan pelayaran.

“Hal ini krusial untuk memastikan penumpang memahami langkah evakuasi mandiri guna mengantisipasi situasi darurat di tengah laut yang tidak terduga,” kata IKAP.

Kepala Pusat Studi Sains dan Teknologi Kelautan-Kebumian ITS itu menyampaikan bahwa penguatan standar keselamatan pelayaran menjadi bagian penting dalam membangun sistem transportasi laut yang lebih aman dan tangguh.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan infrastruktur transportasi yang aman.

Peningkatan standar keselamatan juga mendukung SDGs poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan melalui terciptanya sistem transportasi yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. 

Sementara penguatan edukasi keselamatan bagi awak maupun penumpang berkaitan dengan SDGs poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. (Nayla).
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar