BREAKING NEWS

UNAIR Kembangkan AURIS, Timbangan Pintar Bersuara untuk Barista Tunanetra

KILAS JAVA, SURABAYA - Kebutuhan akan teknologi yang mampu memperluas kemandirian penyandang disabilitas mendorong Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan AURIS (Auditory Responsive Intelligent Scale). Timbangan pintar bersuara tersebut dikembangkan Tim Rasena Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) melalui pendanaan UNAIR SustainAction untuk membantu barista tunanetra di Komunitas Mata Hati (KMH) Surabaya.

AURIS dirancang berdasarkan kebutuhan yang ditemukan langsung di lapangan. Tim Rasena sebelumnya berencana mengembangkan tongkat pintar sebagai bagian dari program yang berfokus pada isu disabilitas. Namun, setelah berdiskusi dengan KMH, tim menemukan kebutuhan yang berbeda.

“Setelah berdiskusi dengan KMH, kami mengetahui bahwa mereka lebih membutuhkan timbangan yang dapat mengeluarkan suara untuk membantu barista tunanetra mereka di UMKM KopiCék dalam proses pembuatan kopi. Dari kebutuhan tersebut, kami kemudian mengembangkan AURIS,” ujar Jessica Rahma Valere Satyo, perwakilan Tim Rasena.

Mahasiswi Teknik Elektro FTMM angkatan 2024 itu menjelaskan, AURIS bekerja dengan mengubah data berat yang diperoleh dari load cell menjadi informasi suara secara real-time. Perangkat tersebut juga dilengkapi fitur input target berat atau dosing sesuai takaran yang diinginkan pengguna.

Ketika kopi dituangkan, buzzer pada AURIS akan terus berbunyi hingga berat yang ditargetkan tercapai. Sistem audio feedback yang dipadukan dengan tombol fisik memungkinkan barista menakar kopi secara presisi tanpa bergantung pada penglihatan.

Pengembangan alat tersebut tidak berhenti pada tahap perancangan. Tim Rasena melakukan serangkaian pengujian bersama para barista untuk memastikan AURIS dapat digunakan secara mudah dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

“Kesan yang kami dapatkan sangat positif. Para barista merasa senang dan kagum karena alat ini membantu mereka. Kami bahkan pernah melakukan uji coba dari pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari di basecamp KMH untuk memperbaiki berbagai error sebelum sosialisasi,” kata Jessica.

Dalam proses pengembangan, tim juga menghadapi sejumlah kendala, terutama berkaitan dengan suara dan tingkat presisi alat. Persoalan tersebut bahkan sempat membuat jadwal sosialisasi harus ditunda.

Namun, masukan dari para pengguna menjadi bagian penting dalam penyempurnaan AURIS. Tim juga menyesuaikan desain bodi hasil 3D printing agar perangkat lebih fleksibel ketika dibuka untuk proses perbaikan.

“Masukan tersebut justru membantu kami mengembangkan AURIS menjadi lebih baik. Termasuk menyesuaikan desain bodi 3D printing agar lebih fleksibel saat dibuka untuk proses perbaikan,” ujar Jessica.

Setelah melalui tahap penyempurnaan, AURIS kemudian disosialisasikan secara offline di lingkungan kampus UNAIR. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Dekan I FTMM, Prof Dr Ni’matuzahroh Dra.

Pengembangan AURIS mendapat dukungan dari ekosistem kampus, mulai dari pendanaan SDGs UNAIR hingga penyediaan fasilitas ruangan dan administrasi oleh FTMM serta Sarpras UNAIR.

Tim Rasena selanjutnya berencana terus menyempurnakan AURIS agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh penyandang disabilitas netra. 

Tim juga berencana memberikan satu unit AURIS kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) UNAIR untuk mendukung pengembangan dan uji lanjut alat tersebut.

“Ke depannya, kami ingin terus mengembangkan AURIS agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra dan meningkatkan kemandirian mereka. Kami juga berencana memberikan satu unit AURIS kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) UNAIR sebagai bagian dari pengembangan dan uji lanjut alat,” pungkas Jessica. (Nayla).
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar