Mengapa Cabai Terasa Panas? Ini Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasi Rasa Pedas
0 menit baca
KILAS JAVA – Banyak orang mengira cabai membuat lidah terasa panas karena suhunya. Padahal, sensasi terbakar setelah mengonsumsi cabai bukan berasal dari panas fisik, melainkan respons sistem saraf terhadap senyawa bernama capsaicin.
Pemahaman ini juga menjelaskan mengapa air putih sering kali tidak efektif mengurangi rasa pedas. Sebaliknya, susu atau produk olahan susu justru lebih mampu meredakan sensasi tersebut karena bekerja sesuai sifat kimia capsaicin.
Capsaicin Menipu Otak
Capsaicin merupakan senyawa aktif yang memberi rasa pedas pada cabai. Zat ini tidak meningkatkan suhu di dalam mulut, tetapi merangsang reseptor saraf yang bertugas mendeteksi panas.
Reseptor tersebut dikenal sebagai TRPV1. Dalam kondisi normal, reseptor ini akan aktif ketika lidah bersentuhan dengan makanan atau minuman yang benar-benar panas.
Saat capsaicin menempel pada reseptor tersebut, otak menerima sinyal seolah-olah lidah sedang terkena panas ekstrem. Akibatnya muncul sensasi terbakar, meski suhu mulut tetap berada pada kisaran normal, sekitar 37 derajat Celsius.
Dengan kata lain, rasa pedas bukanlah bentuk panas sesungguhnya, melainkan persepsi yang dibentuk oleh sistem saraf.
Mengapa Air Putih Kurang Efektif?
Reaksi pertama banyak orang ketika kepedasan adalah minum air putih. Cara ini memang dapat memberikan rasa lega sesaat, tetapi umumnya tidak menghilangkan sensasi pedas.
Penyebabnya, capsaicin bersifat hidrofobik atau tidak larut dalam air. Air hanya melewati permukaan lidah tanpa mampu mengangkat molekul capsaicin yang masih menempel pada reseptor.
Dalam beberapa kondisi, air bahkan dapat membantu menyebarkan capsaicin ke bagian lidah lain sehingga rasa pedas terasa semakin luas.
Lemak dan Protein Lebih Efektif Menghilangkan Pedas
Berbeda dengan air, makanan atau minuman yang mengandung lemak memiliki kemampuan melarutkan capsaicin.
Susu full cream, yogurt, maupun es krim mengandung lemak yang dapat menarik capsaicin dari permukaan lidah. Setelah terikat, senyawa tersebut ikut tertelan sehingga sensasi pedas berangsur berkurang.
Semakin tinggi kandungan lemak dalam produk susu, umumnya semakin baik kemampuannya membantu meredakan rasa pedas.
Peran Protein Kasein
Selain lemak, susu juga mengandung protein bernama kasein.
Protein ini mampu mengikat molekul capsaicin sehingga lebih mudah dilepaskan dari reseptor pada lidah. Kombinasi antara lemak dan kasein membuat susu menjadi salah satu pilihan paling efektif untuk mengurangi sensasi terbakar akibat cabai.
Karena itu, segelas susu dingin sering memberikan hasil yang lebih cepat dibandingkan air putih ketika seseorang mengalami kepedasan.
Bagaimana dengan Roti atau Nasi?
Jika tidak tersedia susu, roti atau nasi dapat menjadi alternatif.
Kedua makanan ini memang tidak melarutkan capsaicin seperti produk susu. Namun, teksturnya membantu menyerap sebagian capsaicin yang menempel di permukaan lidah sehingga sensasi pedas dapat sedikit berkurang saat makanan ditelan.
Mengapa Memahami Cara Kerja Cabai Penting?
Memahami penyebab rasa pedas membantu seseorang memilih cara yang lebih tepat ketika mengonsumsinya.
Alih-alih terus-menerus minum air putih, memilih susu, yogurt, atau makanan bertekstur seperti roti dan nasi lebih sesuai dengan cara kerja capsaicin.
Pengetahuan sederhana ini menjelaskan
mengapa cabai terasa panas di lidah, sekaligus menjadi solusi praktis untuk meredakan rasa pedas berdasarkan prinsip ilmiah.
Penulis: HR. Mawardi.