Desain Interior Terminal Kapal Pesiar Benoa Karya Mahasiswa ITS Usung Nuansa Bali Modern
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Area keberangkatan kapal pesiar tidak lagi dipandang sekadar sebagai ruang transit bagi penumpang. Ruang tersebut menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang membentuk kesan wisatawan sebelum meninggalkan suatu destinasi.
Berangkat dari gagasan tersebut, mahasiswa Departemen Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang interior area keberangkatan Benoa Cruise Terminal dengan konsep Balinese contemporary gateway.
Rancangan tersebut digagas oleh Usep Sopian, mahasiswa angkatan 2022, yang melihat masih adanya sejumlah persoalan pada terminal penumpang konvensional. Menurut dia, beberapa fasilitas masih menghadapi tantangan berupa alur sirkulasi yang kurang intuitif serta suasana ruang tunggu yang cenderung monoton sehingga dapat memengaruhi kenyamanan penumpang.
“Saya ingin ruang transit menjadi bagian dari pengalaman perjalanan penumpang,” ujar Usep.
Bagi mahasiswa asal Sukabumi itu, pengalaman penumpang tidak hanya ditentukan oleh aspek kenyamanan ruang, tetapi juga kesan yang terbentuk selama berada di terminal keberangkatan.
Menurutnya, area tersebut menjadi ruang terakhir yang akan dikenang wisatawan sebelum meninggalkan suatu daerah.
“Desain interior itu adalah first and last impression bagi wisatawan,” katanya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Usep menerapkan pendekatan neo-vernakular dengan sentuhan kontemporer dalam rancangan interior terminal.
Konsep ini mengadaptasi esensi arsitektur Bali melalui penggunaan material lokal, pola geometris tradisional, serta pengaturan proporsi ruang yang tetap menyesuaikan kebutuhan fasilitas modern.
“Nuansa Bali tetap terasa, tetapi tampil dengan lebih modern dan elegan,” jelasnya.
Selain menghadirkan identitas visual, rancangan tersebut juga mengedepankan konsep human-centered design. Usep menyusun elemen desain mulai dari zoning, sirkulasi, pencahayaan, pemilihan material, hingga area komunal untuk menciptakan ruang tunggu yang lebih nyaman bagi penumpang.
Melalui pendekatan tersebut, area keberangkatan dirancang tidak hanya sebagai tempat menunggu, tetapi juga sebagai ruang yang menghadirkan suasana lebih rileks sebagai bagian dari perjalanan wisata di Bali.
Dalam proses perancangannya, Usep menggabungkan studi literatur terkait standar terminal internasional dan regulasi maritim dengan observasi berbagai referensi cruise terminal dunia.
Hasil kajian tersebut kemudian disesuaikan dengan karakteristik Pelabuhan Benoa serta budaya lokal Bali untuk menghasilkan rancangan yang selaras dengan kawasan sekaligus memenuhi kebutuhan fasilitas internasional.
Ke depan, Usep berharap konsep tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut dan tidak hanya berhenti sebagai karya akademik. Pendekatan yang menggabungkan pengalaman penumpang dengan identitas lokal diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan terminal maupun fasilitas publik di Indonesia.
Rancangan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-11 mengenai Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. (Nayla).