Fenomena FOMO Konser: Dosen UNAIR Ingatkan Bahaya Pinjol dan Paylater bagi Gen Z
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA — Industri konser di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Deretan musisi internasional semakin rutin menjadikan Indonesia sebagai bagian dari tur mereka.
Di balik geliat tersebut, terdapat perubahan pola konsumsi hiburan, terutama di kalangan Generasi Z yang menjadikan konser bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari gaya hidup dan identitas sosial.
Media sosial menjadi salah satu faktor yang mempercepat fenomena tersebut. Informasi mengenai jadwal konser, penjualan tiket, hingga pengalaman penonton menyebar dalam hitungan detik dan membentuk antusiasme kolektif. Bagi promotor, kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat menjanjikan.
Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, CI, CDM, QCRO, AIBIZ, CCC, menilai tingginya penetrasi internet dan media sosial telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi hiburan sekaligus memengaruhi keputusan pembelian.
"Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi penyelenggara konser. Pengguna internet dan media sosial yang tinggi membuat informasi mengenai konser sangat cepat menyebar, terutama di kalangan Generasi Z," ujarnya.
Menurut Gancar, keputusan membeli tiket konser tidak semata-mata didorong keinginan menikmati penampilan musisi favorit. Ada faktor psikologis yang turut memengaruhi perilaku konsumsi tersebut.
Ia mengidentifikasi sedikitnya tiga motif utama yang mendorong seseorang membeli tiket konser, yakni self-reward, motif hedonik, dan motif simbolik.
Motif self-reward muncul ketika seseorang merasa telah bekerja keras dan ingin memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri.
Motif hedonik berkaitan dengan pencarian kesenangan dan pengalaman emosional. Adapun motif simbolik berhubungan dengan keinginan memperoleh pengakuan sosial dari lingkungan.
Menurutnya, perkembangan media sosial memperkuat motif simbolik. Pengalaman menghadiri konser kini kerap dipublikasikan melalui unggahan foto maupun video sehingga menjadi bagian dari citra diri di ruang digital.
"Di era media sosial, motif simbolik semakin kuat karena banyak orang ingin memvalidasi status sosialnya melalui pengalaman menghadiri konser tertentu," katanya.
Dalam perspektif pemasaran, ketiga motif tersebut menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan promotor untuk meningkatkan penjualan tiket. Namun, di sisi lain, strategi pemasaran yang efektif juga berpotensi mendorong sebagian konsumen mengambil keputusan finansial yang tidak sehat.
Gancar mengingatkan, persoalan muncul ketika keinginan mengikuti konser melampaui kemampuan ekonomi. Tidak sedikit konsumen yang memilih menggunakan layanan paylater maupun pinjaman daring demi memperoleh tiket.
Fenomena tersebut, menurut dia, semakin diperkuat oleh fear of missing out (FOMO), yaitu kecemasan tertinggal dari tren atau pengalaman yang dinikmati orang lain.
Tekanan sosial semacam itu sering kali membuat seseorang mengambil keputusan secara impulsif tanpa mempertimbangkan kemampuan membayar.
"Keputusan menjadi tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu kebiasaan menutup utang lama dengan pinjaman baru," ujarnya.
Ia menilai literasi keuangan menjadi bekal penting bagi Generasi Z agar tetap dapat menikmati hiburan tanpa mengorbankan stabilitas finansial. Perencanaan anggaran yang disiplin dinilai mampu membantu individu membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan kemampuan ekonomi.
Sebagai panduan sederhana, Gancar menyarankan pembagian anggaran bulanan dengan komposisi sekitar 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan sosial, 20 persen untuk hiburan, serta 10 persen untuk tabungan maupun investasi.
Dengan perencanaan tersebut, keinginan menonton konser dapat dipersiapkan sejak jauh hari melalui alokasi dana yang terukur, sehingga keputusan membeli tiket tidak didorong oleh tekanan tren sesaat ataupun dorongan konsumtif yang berisiko terhadap kondisi keuangan pribadi. (Nayla).